Mahasiswa THP UMS Rappang Lakukan Praktikum Pengujian Waktu Koagulasi Pada Berbagai Jenis Tepung
PELOPORNEWS.INFO, SIDRAP – Mahasiswa Program Studi Teknologi Hasil Pertanian (THP), Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang, melaksanakan kegiatan praktikum mata kuliah Biokimia Hasil Pertanian dengan fokus pada *”Pengujian Waktu Koagulasi pada Berbagai Jenis Tepung”. Kegiatan ini berlangsung di Laboratorium Teknologi Pangan dan diikuti oleh seluruh mahasiswa semester IV angkatan 2023.pada 15 Juni 2025 lalu

Praktikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan membandingkan kemampuan koagulasi berbagai jenis tepung lokal yang banyak digunakan dalam pengolahan pangan, antara lain tepung tapioka, tepung jagung, tepung beras, dan tepung terigu. Mahasiswa melakukan pengamatan terhadap proses pembentukan gel atau koagulasi setelah perlakuan pemanasan dan pendinginan dalam waktu yang telah ditentukan.
Koagulasi merupakan salah satu parameter penting dalam menentukan karakteristik fisik suatu produk pangan, terutama produk yang berbasis pati. Dengan mengetahui waktu koagulasi, mahasiswa dapat memahami perbedaan sifat fungsional tepung berdasarkan sumber bahan bakunya.
Dosen pengampu, Ibu Rukmelia, S.TP, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan praktikum ini tidak hanya bertujuan memperkuat pemahaman teori, tetapi juga untuk mendorong mahasiswa agar mampu melakukan analisis kritis terhadap potensi tepung lokal sebagai bahan baku pangan fungsional.
“Setiap jenis tepung memiliki karakteristik koagulasi yang berbeda-beda, dan ini akan sangat berpengaruh terhadap tekstur produk akhir. Dengan praktik langsung, mahasiswa jadi bisa merasakan dan menganalisis perbedaan itu secara nyata,” ujar ibu Rukmelia.
“Hasil praktikum menunjukkan bahwa tepung tapioka memiliki waktu koagulasi yang lebih cepat dibandingkan tepung jagung dan tepung beras. Sementara itu, tepung terigu menunjukkan koagulasi yang lebih lambat namun membentuk gel yang lebih elastis”, ujar Muh.Darul Arqam (Salah satu Mahasiswa THP Angkatan 2023).
Melalui praktikum ini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang reaksi fisikokimia dalam pengolahan pangan, tetapi juga diajak untuk mengembangkan pemikiran aplikatif terhadap potensi bahan lokal yang melimpah di sekitar mereka.




