“Hanya Bangga Nama Saja” – Bupati Sidrap Soroti Ironi PLTB Terbesar Asia Tenggara
SIDRAP PELOPORNEWS – Keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap yang dikenal sebagai yang terbesar di Asia Tenggara kini menuai kritik pedas dari kepala daerahnya sendiri. Bupati Sidenreng Rappang, H. Syaharuddin Alrif, secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya lantaran megaproyek energi terbarukan tersebut dinilai belum memberikan dampak signifikan bagi kesejahteraan masyarakat dan kemajuan daerah.
Dalam pernyataannya yang viral di media sosial, Sabtu (11/4/2026), Syaharuddin mengakui rasa bangganya atas kehadiran PLTB yang mulai beroperasi sejak 2017 silam. Namun, menurutnya, kebanggaan itu hanya berhenti pada “gengsi” dan nama besar semata.
“Kami bangga karena ini PLTB terbesar di Asia Tenggara. Tapi hanya bangga dengan nama itu saja. Pendapatan asli daerah tidak kami rasakan, dampak sosial bagi masyarakat pun belum terasa,” tegas Syaharuddin.
Janji Wisata Hanya Wacana, Area Malah Dipagar Ketat
Bupati menyoroti sejumlah persoalan mendasar yang dirasakan warga. Salah satunya adalah penggunaan lahan pertanian seluas sekitar 150 hektare yang tidak diimbangi dengan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat setempat.
Lebih jauh, ia menyoroti janji manis di awal pembangunan yang menyebut kawasan ini akan dikembangkan menjadi objek wisata. Kenyataannya? Area tersebut justru tertutup rapat dan sulit diakses.
“Dulu dijanjikan ada tourism area. Tapi setelah jadi, semuanya dipagari. Bahkan tamu Bupati pun sulit untuk masuk melihat langsung,” keluhnya.
Kondisi ini dinilai sangat ironis. Proyek yang berdiri di bumi Sidrap, namun akses dan manfaatnya terasa sangat jauh, bahkan bagi pemerintah daerah sendiri.
Jalan Akses Rusak Parah, “Di TV Bagus, Aslinya Menyedihkan”
Tidak hanya soal akses masuk dan manfaat, kondisi infrastruktur jalan menuju lokasi PLTB juga menjadi sorotan utama. Syaharuddin menegaskan, jalan yang menjadi akses utama masih berupa jalan tanah dan batu, jauh dari kata layak.
“Di televisi terlihat sangat bagus dan megah. Tapi begitu saya pulang ke daerah dan melihat langsung, saya sedih. Jalannya rusak parah,” ucapnya dengan nada kecewa.
Menurutnya, kondisi ini mencerminkan ketimpangan yang mencolok: citra proyek yang gemilang di tingkat nasional, namun realitas di lapangan masih jauh dari harapan masyarakat yang mendiami wilayah tersebut.





