Oktober 30, 2026

Gaungkan Harmoni Seni dan Agama, Menag Nasaruddin Umar Dorong Penguatan Ekosistem Insan Seni

Screenshot_20261030-144526

PELOPORNEWS.MAKASSAR – Seni bukan sekadar ekspresi keindahan, hiburan, ataupun pertunjukan di atas panggung. Seni memiliki kekuatan yang jauh lebih dalam, yakni menjadi bahasa kemanusiaan, ruang perjumpaan spiritual, sekaligus jembatan yang mampu merawat harmoni di tengah keberagaman kehidupan beragama.

Pesan inilah yang mengemuka dalam Konferensi Musik Indonesia (KMI) 2026 yang digelar di Makassar, Jumat (30/10/2026), dengan mengangkat tema “Menuju Festival Lintas Iman dan Internasionalisasi Musik Religi”.

Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, dalam keynote speech-nya menegaskan bahwa seni dan kebudayaan memiliki peran strategis dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai, inklusif, dan saling menghargai.

Menurutnya, manusia kerap menemukan batas-batas perbedaan ketika melihat kehidupan hanya melalui pendekatan rasional dan doktrinal. Namun, melalui seni dan spiritualitas, manusia dapat menemukan ruang persamaan yang melampaui sekat-sekat identitas.

Alam semesta, kata Menag, sesungguhnya diciptakan dalam harmoni dan irama. Setiap detak jantung, hembusan napas, hingga perputaran planet bergerak dalam keteraturan yang menjadi bagian dari keagungan Sang Pencipta.

Dalam perspektif spiritualitas keagamaan, seni bukan sekadar ekspresi kreativitas, melainkan juga bahasa kalbu yang mampu mengungkapkan kerinduan manusia kepada Tuhan.

Seni Harus Mendapat Ruang, Insan Seni Perlu Mendapat Dukungan

Lebih jauh, Nasaruddin Umar menempatkan para seniman, budayawan, pelaku industri kreatif, dan seluruh insan seni sebagai bagian penting dalam membangun peradaban yang berkeadaban.

Sebab, di balik setiap karya seni terdapat gagasan, kreativitas, nilai kehidupan, dan pesan kemanusiaan yang dapat menyentuh berbagai lapisan masyarakat.

Karena itu, pengembangan seni dan kebudayaan tidak semestinya hanya berhenti pada penyelenggaraan festival atau seremoni kebudayaan. Dibutuhkan ekosistem yang memberikan ruang tumbuh, apresiasi, kesempatan berkarya, serta dukungan berkelanjutan bagi para insan seni.

Para seniman harus ditempatkan sebagai mitra strategis dalam merawat kebudayaan dan memperkuat kehidupan beragama yang harmonis.

Kehadiran pemerintah dalam ekosistem seni juga diharapkan tidak hanya menjadi fasilitator kegiatan, tetapi mampu membuka ruang kolaborasi, memperluas panggung ekspresi, dan mendorong karya-karya anak bangsa agar semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.

Dalam konteks tersebut, Kementerian Agama melalui Asta Protas Kemenag Berdampak menempatkan penguatan kerukunan umat dan moderasi beragama berbasis ekosistem kebudayaan sebagai salah satu agenda penting.

Seni diharapkan menjadi medium yang mencerahkan, mempertemukan perbedaan, sekaligus memperkuat persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah) dan persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah insaniyah).

Harmoni Seni Bukan Berarti Mencampuradukkan Agama

Salah satu gagasan penting yang disampaikan Nasaruddin Umar adalah bagaimana membangun kolaborasi seni lintas iman tanpa menghilangkan identitas dan kesakralan masing-masing agama.

Indonesia memiliki kekayaan ekspresi spiritual yang luar biasa. Mulai dari lantunan pujian dan shalawat dalam tradisi Islam, liturgi dan kidung dalam tradisi Katolik, gospel dan lagu pujian Kristen, tembang spiritual Hindu, lantunan paritta Buddha, hingga ekspresi spiritual Khonghucu dan berbagai tradisi lokal Nusantara.

Seluruhnya merupakan kekayaan kebudayaan yang mencerminkan keberagaman Indonesia.

Menurut Menag, mengapresiasi ekspresi seni dari tradisi agama lain bukan berarti menukar akidah atau meyakini doktrin agama lain. Sebaliknya, hal itu merupakan bentuk pembelajaran untuk memahami bagaimana manusia mengekspresikan kerinduan kepada Tuhan melalui keindahan yang berbeda.

Namun, kolaborasi tersebut harus dibangun dengan kebijaksanaan.

Nasaruddin Umar menekankan tiga pilar penting dalam mewujudkan Festival Lintas Iman.

Pertama, kesucian niat dan kesetaraan. Setiap ekspresi keimanan yang tulus harus dihargai tanpa merendahkan tradisi keagamaan lainnya.

Kedua, menjaga batas antara ritual keagamaan yang sakral dan ekspresi budaya yang memiliki dimensi spiritual. Kolaborasi seni tidak boleh diarahkan pada pencampuradukan ajaran atau sinkretisme teologi.

Ketiga, melibatkan para tokoh agama, kiai, pendeta, pemilik pengetahuan tradisi, serta seniman berpengalaman dalam proses penciptaan dan kurasi karya.

Dengan demikian, seni dapat berkembang secara kreatif tanpa mencederai nilai-nilai keagamaan yang dijunjung masyarakat.

Dari Makassar Menuju Panggung Dunia

Menag juga mendorong agar kekayaan seni dan budaya Indonesia tidak hanya menjadi kebanggaan domestik, tetapi mampu menembus panggung internasional.

Di tengah konflik global, polarisasi, dan berbagai ketegangan antarbangsa, dunia membutuhkan pesan-pesan perdamaian yang disampaikan melalui pendekatan yang lebih menyentuh hati.

Kekayaan seni Indonesia dinilai memiliki potensi besar menjadi instrumen diplomasi spiritual dan kebudayaan.

Melalui sinergi Kementerian Agama, Kementerian Kebudayaan, serta seluruh ekosistem seni nasional, Indonesia dapat memperkenalkan wajah keberagaman yang hidup berdampingan secara harmonis.

Gagasan Festival Lintas Iman menjadi salah satu langkah untuk mempertemukan seniman dari berbagai latar belakang keagamaan dalam ruang kreativitas bersama.

Lebih dari sekadar pertunjukan, festival tersebut diharapkan menjadi ruang dialog, apresiasi, dan pertukaran kebudayaan yang memperkuat nilai cinta kasih, kedamaian, keadilan, serta kepedulian terhadap kelestarian alam.

Internasionalisasi karya seni juga menjadi peluang bagi para seniman dan pelaku industri kreatif Indonesia untuk memperluas jangkauan karya, membangun jejaring global, serta memperkenalkan kekayaan spiritual Nusantara kepada masyarakat dunia.

Seni, Agama, dan Kemanusiaan dalam Satu Harmoni

Pesan besar yang ingin dibangun melalui Konferensi Musik Indonesia 2026 adalah bahwa seni dan agama bukan dua ruang yang harus dipertentangkan.

Keduanya dapat berjalan beriringan dalam membangun kehidupan yang lebih damai dan manusiawi.

Agama memberikan tuntunan nilai, sementara seni menghadirkan keindahan sebagai salah satu jalan untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan.

Ketika keduanya bertemu dalam semangat saling menghormati, seni dapat menjadi kekuatan sosial yang merawat persaudaraan di tengah perbedaan.

Menag mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan seni sebagai ruang ekspresi perdamaian sekaligus penyembuh jiwa umat manusia.

Sebab, keindahan tidak semestinya hanya dinikmati, tetapi juga harus mampu melahirkan kebaikan.

Dari Makassar, sebuah pesan kebudayaan kembali digaungkan: Indonesia tidak harus menjadi bangsa dengan satu warna untuk hidup dalam persatuan. Justru dari beragam ekspresi, tradisi, kreativitas, dan nilai spiritual itulah lahir sebuah harmoni kebangsaan yang indah.

Seni merawat keindahan, agama menuntun kehidupan, dan kemanusiaan menjadi nilai yang mempertemukan semuanya.