April 2, 2026

Konferensi Internasional Kemenag Saudi Beralih Daring, Menag RI Angkat Ekoteologi sebagai Solusi Krisis Global

Screenshot_20260403-000243

PELOPORNEWS.INFO,JAKARTA — Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, mengikuti konferensi internasional yang digelar Kementerian Agama Arab Saudi bersama delapan negara Islam, yang tahun ini dilaksanakan secara daring akibat kondisi kawasan Timur Tengah yang belum stabil.

Agenda bergengsi tersebut sebelumnya dijadwalkan berlangsung secara langsung di Mekkah pada 1–4 April 2026. Namun, dinamika geopolitik yang berdampak pada terganggunya penerbangan dari sejumlah negara peserta membuat penyelenggara memutuskan untuk menggelar forum secara virtual.

Konferensi ini diikuti oleh delapan negara, yakni Indonesia, Pakistan, Maroko, Kuwait, Mesir, Yordania, Arab Saudi, dan Gambia. Forum ini menjadi wadah penting bagi negara-negara Islam dalam merumuskan peran strategis agama dalam menghadapi tantangan global.

Dalam penyampaiannya, Menag Nasaruddin Umar menekankan bahwa dunia saat ini tengah berada dalam situasi krisis multidimensi, yang tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyentuh aspek moral dan kemanusiaan.

“Yang kita hadapi hari ini bukan sekadar krisis iklim, tetapi krisis nilai. Bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi persoalan bagaimana manusia memaknai dan memperlakukan bumi,” ungkapnya sebagaimana tertuang dalam materi resmi .

Ia menjelaskan bahwa berbagai persoalan global seperti pemanasan global, krisis pangan dan air, hingga ancaman terhadap keanekaragaman hayati merupakan sinyal kuat bahwa pendekatan konvensional tidak lagi cukup. Dibutuhkan pendekatan berbasis nilai, di mana agama hadir sebagai kompas etika.

Dalam konteks tersebut, Menag memperkenalkan konsep ekoteologi sebagai paradigma yang mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal dalam menjaga keseimbangan alam. Menurutnya, konsep ini menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar tanggung jawab sosial, melainkan bagian dari keberagamaan yang utuh.

“Ekoteologi mengubah cara pandang kita, dari eksploitasi menuju amanah. Dari konsumsi berlebihan menuju pelestarian. Ini adalah bentuk nyata dari iman yang hidup dalam tindakan,” jelasnya .

Lebih jauh, Menag mengungkapkan bahwa Indonesia telah menempatkan ekoteologi sebagai bagian dari kebijakan strategis Kementerian Agama, sekaligus sejalan dengan visi pembangunan nasional yang menekankan harmoni antara manusia dan alam.

Ia juga mendorong agar rumah-rumah ibadah di seluruh dunia menjadi contoh konkret dalam membangun kesadaran lingkungan, sehingga nilai-nilai agama tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi menjadi budaya dan perilaku sehari-hari.

“Melindungi bumi adalah kewajiban moral dan agama yang tidak bisa ditunda. Ini adalah tanggung jawab generasi kita terhadap masa depan,” tegasnya .

Konferensi ini turut diikuti oleh Tenaga Ahli Menteri Agama RI, Bunyamin M. Yapid, yang mendampingi Menag dalam forum internasional tersebut.

Kehadiran Indonesia dalam forum ini sekaligus mempertegas posisi strategisnya dalam diplomasi keagamaan global, dengan membawa narasi bahwa agama harus menjadi bagian dari solusi atas krisis kemanusiaan dan lingkungan dunia.