Meriahkan HUT ke-1089, Prosesi Manusuk Sima Kembali Digelar di Candi Lor Nganjuk
NGANJUK PELOPORNEWS– Memperingati Hari Jadi Kabupaten Nganjuk yang ke-1089, tradisi sakral Manusuk Sima kembali digelar dengan penuh khidmat. Acara berlangsung di Candi Lor atau dikenal juga sebagai Candi Boto, Desa Candi, Kecamatan Loceret, pada Jumat (10/4/2026).
Upacara adat ini bukan sekadar ritual, melainkan napak tilas sejarah panjang berdirinya Nganjuk. Manusuk Sima mengisahkan penetapan wilayah Sima atau daerah perdikan yang bebas pajak pada masa Kerajaan Mataram Kuno.

Sejarah mencatat, Prasasti Anjuk Ladang yang menjadi dasar penetapan hari jadi Nganjuk dikeluarkan pada tanggal 10 April 937 Masehi. Peristiwa ini merupakan wujud penghargaan Mpu Sendok kepada penduduk Desa Anjuk Ladang yang berjasa membantu kerajaan dalam pertempuran melawan pasukan Melayu. Kemenangan itu kemudian mengabadikan nama wilayah sebagai Anjuk Ladang (Tanah Kemenangan), yang hingga kini dikenal sebagai Nganjuk.
Hadir Pejabat hingga Tamu dari Prancis
Prosesi adat ini dihadiri langsung oleh Bupati Nganjuk, Drs.Dr.H.Marhaen Djumadi, S.E.,S.H.,M.M.,M.B.A, Wakil Bupati Tri Handi Cahyo Saputro, S.T., Ketua DPRD Tatit Heru Tjajono, S.Sos, serta jajaran Forkopimda, Kepala OPD, Camat Loceret, hingga tamu istimewa dari luar negeri, yakni empat orang perwakilan dari Kota Paris, Prancis.
Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan diwarnai pertunjukan tari tradisional yang menggambarkan kegagahan peperangan zaman dahulu.
Bupati: Jangan Lupakan Sejarah dan Budaya
Dalam sambutannya, Bupati Marhaen Djumadi menekankan pentingnya menjaga warisan leluhur. Ia menyebutkan bahwa peringatan ini dilakukan untuk mengenang sejarah kemenangan melawan pasukan Melayu.
“Manusuk Sima ini kita peringati setiap tahun. Pesan saya untuk masyarakat, jangan melupakan sejarah. Jadi orang Jawa, jangan lupakan Jawanya, jangan lupakan budaya dan adat,” tegas Bupati.
“Semoga dengan terus digelarnya tradisi ini, masyarakat Bumi Anjuk Ladang senantiasa Toto Tentrem, Gimah Ripah, Loh Jinawi (aman, tenteram, makmur, dan tanah subur),” harapnya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan prosesi punca, yaitu menaiki Candi Lor dan menancapkan Tombak Pusaka Kemenangan sebagai simbol kekuatan dan kelestarian sejarah Nganjuk. ( RTN )





