BUPATI SYAHARUDDIN ALRIF RESMIKAN JIAT, SOLUSI UTAMA ATASI KENDALA AIR BAGI PETANI SIDRAP
SIDRAP, PELOPORNEWS, 12 Mei 2026 – Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) kini memiliki solusi nyata untuk mengatasi masalah kekurangan air bagi petani, khususnya di lahan sawah yang mengandalkan curah hujan. Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, meresmikan sekaligus menguji coba pengaliran Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) Program Instruksi Presiden (Inpres) di Desa Rijang Panua, Kecamatan Kulo, Selasa (12/5/2026).
Kegiatan peresmian ini juga dirangkaikan dengan serah terima delapan unit JIAT dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang kepada Pemerintah Kabupaten Sidrap. Fasilitas ini tersebar di berbagai wilayah strategis di kabupaten tersebut, dan dinilai sebagai langkah besar dalam memajukan sektor pertanian daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Syaharuddin Alrif menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada BBWS Pompengan Jeneberang atas pembangunan sarana yang sangat dibutuhkan masyarakat ini. Ia menekankan bahwa masalah ketersediaan air selama ini menjadi hambatan utama bagi para petani dalam meningkatkan hasil panen. Kehadiran JIAT dinilai sebagai solusi konkret yang akan mengubah kondisi tersebut.
“Terima kasih kepada BBWS yang telah membangun delapan unit JIAT di Sidrap. Program ini sangat bermanfaat karena persoalan air yang selama ini menjadi kendala utama petani kini mulai teratasi. Dengan adanya sarana ini, harapan kami untuk memajukan pertanian akan semakin terwujud,” ujar Syaharuddin.
Berdasarkan ketersediaan air yang kini terjamin, Bupati menetapkan target strategis ambisius namun realistis bagi sektor pertanian Sidrap. Ia mendorong penuh implementasi program IP300—yaitu pola tanam tiga kali dalam setahun—dengan target produktivitas mencapai 10 ton per hektare. Target ini menjadi komitmen pemerintah daerah untuk meningkatkan jumlah produksi pertanian secara signifikan.
“Kami ingin produksi pertanian meningkat. Program IP300 harus berjalan dengan baik, dan target 10 ton per hektare harus dapat dicapai oleh para petani. Ini adalah langkah kita untuk menaikkan kesejahteraan keluarga tani di seluruh pelosok Sidrap,” tegasnya.
Selain menjamin ketersediaan air, Syaharuddin juga menekankan pentingnya dukungan dari para petani itu sendiri. Ia mengingatkan agar para petani menggunakan benih yang seragam dan tetap menjaga kekompakan dalam mengatur pola tanam. Hal ini diperlukan agar seluruh potensi yang ada dapat dimaksimalkan demi hasil panen yang maksimal dan berkelanjutan.
Menyangkut kesejahteraan ekonomi petani, Bupati juga menyoroti kondisi harga gabah yang saat ini berada di angka Rp7.300 hingga Rp7.500 per kilogram. Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus memantau perkembangan harga di pasar, guna memastikan harga tetap terjaga dan menguntungkan bagi para produsen.
“Kami berkomitmen menjaga masyarakat dan petani Sidrap dari berbagai permasalahan. Insya Allah, kesejahteraan petani akan terus kami perjuangkan melalui berbagai kebijakan dan dukungan yang nyata,” tambahnya dengan yakin.
Sementara itu, PPK Pendayagunaan Air Tanah BBWS Pompengan Jeneberang, Trisno Widodo, menjelaskan bahwa pembangunan sumur JIAT ini memang secara khusus diprioritaskan untuk kawasan pertanian yang bergantung pada air hujan. Langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak yang sangat signifikan, tidak hanya dari segi hasil panen, tetapi juga dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah pedesaan.
Setelah proses peresmian dan pengaliran dilakukan, acara dilanjutkan dengan peninjauan langsung lokasi sumur JIAT oleh Bupati beserta rombongan. Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi terbuka bersama para petani setempat untuk mendengarkan langsung kondisi pengairan di lapangan serta kebutuhan dan harapan masyarakat terkait pengelolaan sarana irigasi tersebut.
Hadir dalam kegiatan tersebut Asisten Ekonomi dan Pembangunan Patahangi Nurdin, Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Andi Safari Renata, Sekretaris Dinas Pertanian Suriyanto, Camat Kulo Arisal Asad, serta jajaran penyuluh pertanian lapangan dan tokoh masyarakat setempat.





