Deep Learning: Mendalami dan Menguasai Materi, Bukan Sekadar “Coding”
Oleh: Sudarto (Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)
Di tengah gelombang transformasi digital yang melanda dunia pendidikan, istilah deep learning kian populer digaungkan. Sayangnya, di balik popularitasnya, terjadi kesalahpahaman yang cukup serius. Banyak pihak, termasuk sebagian pendidik dan pengambil kebijakan, mengartikan deep learning sebagai pembelajaran yang mengajarkan siswa menulis kode pemrograman (coding) atau mengoperasikan teknologi modern berbasis IT. Padahal, esensi deep learning yang sesungguhnya justru berada pada sisi yang berlawanan: memahami materi pelajaran secara mendalam, bukan sekadar mampu menggunakan teknologi.
Kekeliruan ini bukan masalah sepele. Ketika deep learning disalahartikan sebagai pembelajaran coding atau penggunaan aplikasi IT, yang terjadi justru sebaliknya dari yang diharapkan. Siswa semakin jauh dari pendalaman materi karena waktu dan energi mereka tersita untuk mempelajari sintaks, logika pemrograman, atau cara mengoperasikan perangkat lunak. Alih-alih memahami konsep fisika (misalnya) tentang gaya dan gerak, siswa malah sibuk menulis kode untuk membuat simulasi. Alih-alih mendalami struktur sel dan fungsi organ tubuh, siswa lebih fokus membuat presentasi digital yang ingin tampil “menarik”. Teknologi memang penting, tetapi bukan menggantikan substansi pembelajaran.
Makna Sejati Deep Learning
Deep learning dalam konteks pendidikan berarti pembelajaran yang mendorong siswa untuk memahami materi secara mendalam, bukan sekadar mengenal fakta dan rumus-rumus, tetapi mampu memahaminya secara mendalam. Istilah ini berasal dari pendekatan konstruktivis yang menekankan pada pembangunan pemahaman konseptual yang kuat, kemampuan menghubungkan antarkonsep, dan penerapan pengetahuan dalam berbagai konteks. Deep learning menuntut siswa untuk berpikir kritis, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta setelah hafal, paham dan mampu mengaplikasikan materi berdasarkan eksplorasi yang mendalam terhadap materi.
Dalam deep learning, siswa tidak hanya tahu apa, tetapi juga tahu mengapa dan bagaimana. Mereka tidak hanya sampai pada level C1 dengan menghafal rumus luas persegi panjang, tetapi mampu mencapai level C2 degan memahami dari mana rumus itu berasal, mengapa dan bagaiman rumus itu bekerja (C4), dan bagaimana menerapkannya dalam konteks baru dan situasi nyata (C3), bagaimana menentkan benar-salahnya penggunaan rumus (C5), serta bagaimana menciptakan formula baru yang lebih mudah dipahami berkaitan rumus yang ada (C6). Mereka tidak hanya menghafal tahun-tahun peristiwa sejarah, tetapi memahami sebab-akibat, konteks sosial-politik, dan dampak peristiwa tersebut terhadap kehidupan masa kini. Inilah esensi deep learning: penguasaan materi yang mendalam dan bermakna.
Ketika Teknologi Mengaburkan Substansi
Masalah muncul ketika deep learning diartikan sebagai pembelajaran yang mengutamakan penggunaan teknologi modern berbasis IT, terutama coding. Memang tidak dapat dimungkiri bahwa literasi digital dan kemampuan pemrograman merupakan keterampilan penting di abad 21. Namun, menjadikannya sebagai inti dari deep learning adalah kekeliruan fatal.
Bayangkan seorang siswa yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempelajari bahasa pemrograman Python agar dapat membuat program sederhana, tetapi tidak memiliki waktu yang cukup untuk memahami konsep IPA atau matematika mendasar yang seharusnya menjadi fondasi berpikir alamiah dan logisnya. Atau siswa yang sibuk membuat video presentasi dengan efek-efek menarik, tetapi tidak benar-benar memahami materi yang dipresentasikannya. Dalam kasus-kasus seperti ini, teknologi justru menjadi penghalang bagi pendalaman materi, bukan facilitator.
Kekeliruan ini terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap makna deep learning yang sesungguhnya. Banyak pihak terjebak pada permukaan teknologi tanpa menyentuh inti pembelajaran. Mereka berpikir bahwa dengan mengajarkan coding, siswa otomatis akan memiliki kemampuan berpikir komputasional yang mendalam. Padahal, tanpa fondasi pemahaman konseptual yang kuat, coding hanyalah keterampilan teknis yang dangkal tanpa makna esensial.
Dampak Negatif Salah Kaprah
Salah kaprah dalam memaknai deep learning ini memiliki dampak negatif yang serius. Pertama, siswa menjadi teralienasi dari materi pelajaran itu sendiri. Mereka lebih fokus pada alat (teknologi) daripada substansi (materi). Kedua, beban kognitif siswa meningkat karena mereka harus mempelajari dua hal sekaligus: materi pelajaran dan teknologi. Bagi siswa yang belum memiliki fondasi kuat, ini dapat menyebabkan kebingungan dan frustrasi.
Ketiga, terjadi kesenjangan yang semakin lebar antara siswa yang memiliki akses dan kemampuan teknologi dengan yang tidak. Siswa dari latar belakang ekonomi lebih mampu akan lebih cepat menguasai coding dan aplikasi IT, sementara siswa dari latar belakang kurang mampu akan semakin tertinggal. Padahal, deep learning yang sesungguhnya seharusnya dapat diakses oleh semua siswa, terlepas dari latar belakang teknologi mereka.
Keempat, guru juga mengalami kebingungan. Banyak guru yang merasa tertekan untuk mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran, meskipun mereka sendiri belum sepenuhnya memahami materi yang diajarkan. Akibatnya, pembelajaran menjadi dangkal di kedua sisi: guru tidak mendalam dalam materi, siswa tidak mendalam dalam pemahaman, suatu kondisi yang sangat paradoks.
Kembali ke Esensi
Sudah saatnya kita meluruskan pemahaman tentang deep learning. Deep learning bukan tentang seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi tentang seberapa dalam siswa memahami materi. Teknologi dapat menjadi alat yang sangat powerful untuk mendukung deep learning, tetapi hanya jika digunakan dengan tepat dan tidak mengaburkan substansi pembelajaran.
Guru perlu kembali pada esensi pembelajaran: membantu siswa memahami konsep secara mendalam, menghubungkan antarkonsep, dan menerapkan pengetahuan dalam berbagai konteks. Teknologi dapat digunakan untuk memfasilitasi hal ini, misalnya melalui simulasi interaktif untuk memahami konsep abstrak, atau platform diskusi online untuk memperdalam pemahaman melalui dialog. Namun, teknologi harus tetap menjadi alat, bukan tujuan.
Kurikulum juga perlu direorientasi untuk menekankan pada pendalaman materi, bukan sekadar pengenalan teknologi. Waktu pembelajaran yang terbatas seharusnya diprioritaskan untuk membangun pemahaman konseptual yang kuat. Teknologi dapat diintegrasikan secara bertahap dan bermakna, bukan dipaksakan hanya untuk mengikuti tren yang tidak dipahami secara hakiki.
Penutup
Deep learning adalah tentang kedalaman pemahaman materi, bukan kecanggihan teknologi. Mengajarkan coding dan penggunaan aplikasi IT memang penting, tetapi tidak boleh mengorbankan pendalaman materi pelajaran. Kekeliruan dalam memaknai deep learning sebagai pembelajaran teknologi justru akan menjauhkan siswa dari tujuan utama pendidikan: memahami dunia secara mendalam dan bermakna.
Mari kita kembalikan deep learning pada makna sejatinya: pembelajaran yang mendorong siswa untuk memahami materi secara mendalam, berpikir kritis, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata. Teknologi adalah alat yang dapat membantu, tetapi bukan inti dari deep learning. Dengan pemahaman yang benar, kita dapat memastikan bahwa pendidikan benar-benar mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan masa depan dengan fondasi pengetahuan yang kuat dan pemahaman yang valid dan mendalam.





