Salah Kaprah terhadap Kurikulum Merdeka: Ketika “Bebas” Disalahartikan sebagai “Bebas Tanggung Jawab”
Oleh: Sudarto (Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)
Sejak resmi diluncurkan, Kurikulum Merdeka menjadi salah satu kebijakan pendidikan yang paling banyak dibicarakan di Indonesia. Di balik semangatnya yang mulia, sayangnya masih banyak yang salah kaprah dalam memahami kata “merdeka” itu sendiri. Sebagian orang tua, bahkan sebagian guru, menafsirkan kurikulum ini sebagai kebebasan tanpa batas: siswa bebas tidak belajar, dan guru bebas dari tanggung jawab mendidik. Pemahaman yang keliru ini perlahan menggerus makna sejati dari kebijakan yang justru lahir untuk memerdekakan cara belajar dan cara mengajar.
“Merdeka” Bukan Berarti Lepas Kendali
Kesalahpahaman paling umum adalah menganggap Kurikulum Merdeka memberi izin kepada siswa untuk tidak belajar. Anggapan ini jauh dari kebenaran. Kurikulum Merdeka justru menuntut siswa untuk bebas belajar dengan cara yang mereka sukai : bukan bebas dari belajar. Kebebasan di sini adalah kebebasan memilih cara, sumber, dan ritme belajar yang paling sesuai dengan minat dan gaya masing-masing peserta didik.
Kurikulum Merdeka dirancang dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam, di mana konten dioptimalkan agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Artinya, siswa tetap belajar, bahkan lebih dalam lagi, hanya saja tidak lagi dipaksa mengikuti satu pola seragam yang membosankan. Kebebasan ini adalah ruang untuk bertumbuh, bukan pelarian dari kewajiban belajar.
Guru Justru Lebih Bertanggung Jawab
Salah kaprah kedua yang tak kalah meresahkan adalah anggapan bahwa guru “bebas” sehingga tidak lagi bertanggung jawab untuk mendidik. Ini pemahaman yang paling keliru sekaligus paling berbahaya. Dalam Kurikulum Merdeka, peran guru justru semakin sentral dan menuntut tanggung jawab yang lebih besar.
Guru dalam Kurikulum Merdeka berperan sebagai arsitek pembelajaran yang harus responsif terhadap kebutuhan belajar siswa yang beragam baik dari kesiapan, minat, maupun profil belajar mereka. Guru tidak lagi sekadar menyampaikan materi, tetapi dituntut menjadi fasilitator, motivator, perancang, dan evaluator pembelajaran yang akuntabel. Guru harus memetakan kebutuhan siswa melalui asesmen diagnostik, merancang strategi pembelajaran berdiferensiasi, memilih media dan metode yang relevan, serta mengevaluasi hasil belajar secara holistik dan berkesinambungan.
Kurikulum Merdeka justru memberikan keleluasaan kepada pendidik untuk menciptakan pembelajaran berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar peserta didik. Kebebasan yang diberikan kepada guru bukan kebebasan untuk berpangku tangan, melainkan kebebasan untuk berinovasi : bebas memilih perangkat ajar, bebas mengadaptasi materi, dan bebas mengajar dengan segala cara yang baik agar siswa mudah memahami materi.
Ketika “Ketegasan” Digantikan oleh Rasa “Takut”
Salah kaprah ini semakin parah ketika guru justru membiarkan siswa tanpa mau peduli dengan alasan takut dianggap berbuat jauh karena siswa selalu melapor ke orang tua. Ketakutan semacam ini seharusnya tidak menjadi alasan untuk meninggalkan tanggung jawab mendidik. Justru di sinilah esensi Kurikulum Merdeka diuji.
Pembelajaran berdiferensiasi : salah satu ciri utama Kurikulum Merdeka menuntut guru untuk mengakomodasi perbedaan individual siswa dalam hal kesiapan, minat, dan gaya belajar. Ini bukan berarti guru menyerah pada setiap keinginan siswa. Sebaliknya, guru harus tetap menjadi pemimpin pembelajaran yang memastikan setiap peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, sekaligus menegakkan disiplin dan ketegasan yang mendidik.
Kembali ke Makna Sejati
Sudah saatnya kita meluruskan pemahaman yang salah ini. Kurikulum Merdeka tidak pernah menciptakan siswa yang bebas tidak belajar, juga tidak pernah membebaskan guru dari tanggung jawab mendidik. Yang ditawarkan kurikulum ini adalah kebebasan dalam kerangka tanggung jawab: siswa bebas belajar dengan cara yang mereka sukai, dan guru bebas mengajar dengan segala cara agar materi mudah dipahami.
Kebebasan tanpa tanggung jawab hanyalah kekacauan. Tanggung jawab tanpa kebebasan hanyalah pengekangan. Kurikulum Merdeka hadir untuk memadukan keduanya : memerdekakan cara belajar dan cara mengajar, tanpa pernah melepaskan kewajiban untuk belajar dan mendidik. Mari kita pahami maknanya dengan benar, agar semangat merdeka belajar benar-benar terwujud, bukan sekadar menjadi slogan yang disalahartikan.





