Bukan Tilang, Tapi Doa: Kala Kasat Lantas AKP Muh. Ali Ubah Pangkalan Ojek Jadi Mimbar Keselamatan
ENREKANG PELOPORNEWS – Pagi di depan RSUD Enrekang, Rabu (4/2/2026), tak dibuka dengan derit peluit atau aroma kertas tilang yang kaku. Alih-alih suasana tegang, yang terdengar justru gelak tawa renyah. Di sana, duduk melingkar di atas bangku kayu pangkalan, Kasat Lantas Polres Enrekang, AKP Muh. Ali, tampak melebur bersama para pejuang nafkah—pengemudi ojek dan sopir angkot.

Aksi bertajuk “Polantas Menyapa” ini jauh dari kesan formalitas protokoler. Bagi warga Bumi Massenrempulu, AKP Muh. Ali bukanlah orang asing. Ia adalah “anak lama” yang kembali pulang. Meniti karier dari Bintara remaja pada 1993 hingga kini menjabat Kasat Lantas sejak Desember 2025, ia tetap dikenal sebagai sosok polisi yang jujur dan tak berjarak dengan rakyat.
Menyentuh Hati di Sela Seruput Kopi
Sambil memegang segelas kopi, AKP Muh. Ali tidak memberikan kuliah hukum yang membosankan. Ia justru menyentuh sisi kemanusiaan para pengemudi. Baginya, helm dan sabuk pengaman bukan sekadar atribut plastik dan kain, melainkan perlindungan bagi mereka yang menjadi tumpuan hidup keluarga di rumah.
“Bapak-bapak, tertib di jalan itu bukan karena takut ada saya atau anggota di tikungan. Tapi karena ada istri dan anak-anak yang menanti pelukan Bapak di rumah. Anggaplah menjaga keselamatan itu sebagai ibadah,” tutur AKP Muh. Ali dengan nada yang teduh namun merasuk.
Mendobrak Sekat, Membangun Solusi
Pendekatan dialogis ini menjadi bukti bahwa Satlantas Polres Enrekang kini lebih mengedepankan “Edukasi Hati” daripada sekadar sanksi. Ada tiga poin utama yang ditekankan dalam pertemuan hangat tersebut:
1. Etika di Atas Aspal: Menghargai nyawa sesama pengguna jalan.
2. Tertib Sebagai Gaya Hidup: Menjadikan aturan lalu lintas sebagai kebutuhan, bukan beban.
3. Mendengar Tanpa Jarak: Menampung langsung keluh kesah para sopir mengenai kondisi di lapangan.
Di bawah kepemimpinan AKP Muh. Ali, wajah Polantas di Enrekang bertransformasi. Polisi tidak lagi hanya “menunggu salah”, tetapi hadir “menyapa dengan solusi”. Jalan raya kini tak hanya dibuat aman secara teknis, tapi juga terasa nyaman secara sosial.
Sebab di Enrekang, keselamatan bukan lagi soal denda, tapi soal cinta untuk keluarga. (Adnan)





