Januari 18, 2026

Bupati Sidrap Dorong Kejayaan Lumbung Pangan Nasional dengan Program IP300

SGN_12_29_2025_1767018363036

Laporan Mustafa Hanafi

Sidrap, Pelopornews  – Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap), H. Syaharuddin Alrif, kembali menegaskan komitmennya untuk memulihkan Sidrap sebagai lumbung pangan nasional. Hari ini, Senin, 29 Desember 2025, di kawasan Monumen Ganggawa, beliau menyerahkan 121 unit alat mesin pertanian (Alsintan) secara simbolis kepada kelompok tani setempat. Penyerahan ini merupakan bagian dari upaya strategis untuk mendukung program Indeks Pertanaman 300 (IP300), yang bertujuan mencapai tiga kali panen padi dalam setahun. Target ambisius ini menandai terobosan historis di Sidrap, di mana sebelumnya petani hanya mampu memanen dua kali per tahun akibat keterbatasan lahan, iklim, dan akses teknologi.

Program IP300, yang dicanangkan Bupati Syaharuddin sejak awal masa jabatannya, telah menjadi andalan di bidang ketahanan pangan. Dalam kegiatan penyerahan Alsintan hari ini, Bupati menekankan bahwa alat-alat seperti traktor roda empat, mesin penggiling, dan alat tanam mekanis akan mempercepat proses pertanian, mengurangi ketergantungan pada tenaga manual, dan meningkatkan produktivitas. “Ini bukan sekadar bantuan, tapi investasi untuk masa depan petani Sidrap,” ujar Bupati dalam sambutannya, yang juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian Sidrap dan perwakilan petani. Penyerahan 121 unit Alsintan ini didanai dari APBD Kabupaten Sidrap dan dukungan Kementerian Pertanian, dengan fokus pada kelompok tani di wilayah rawan pangan seperti Kecamatan Watang Pulu dan Kecamatan Maritengngae.

Sejarah dan Konteks Program IP300 di Sidrap

Sebelum IP300, Sidrap memang dikenal sebagai pusat produksi padi di Sulawesi Selatan, tetapi produktivitasnya terbatas pada dua musim tanam (MT) per tahun, yaitu MT I (Desember–Februari) dan MT II (Juni–Agustus). Pola ini sering terganggu oleh musim kemarau panjang dan banjir, yang menyebabkan rata-rata produksi gabah hanya sekitar 5–6 ton per hektare, jauh di bawah potensi lahan irigasi yang luas mencapai 50.000 hektare. Menurut data BPS Sulsel, produksi gabah Sidrap pada 2024 hanya mencapai 600.000 ton, dengan panen dua kali yang menghasilkan 300.000 ton per musim.

IP300 merevolusi ini dengan menerapkan tiga musim tanam: MT I (Desember–Februari), MT II (Juni–Agustus), dan MT III (Oktober–Desember), memanfaatkan irigasi modern dan varietas padi unggul seperti Inpari 32. Program ini didorong Kementerian Pertanian sejak 2023, dan Sidrap menjadi salah satu pilot project nasional. Pada 2025, Sidrap telah mencatat rekor panen raya di Desa Lancirang, dengan produktivitas 12,7 ton per hektare, melampaui rata-rata nasional 5–6 ton. Bupati Syaharuddin menargetkan peningkatan signifikan di 2026, yaitu 1 juta ton gabah kering giling (GKG), setara dengan 600.000 ton beras. Target ini didasarkan pada ekspansi lahan menjadi 100.000 hektare yang ditanami tiga kali, dengan dukungan pupuk subsidi dan jaminan harga dari Bulog.

Dampak dan Strategi Mendukung Petani

Program IP300 tidak hanya fokus pada panen, tapi juga pascapanen dan ketahanan. Pada 2025, Sidrap telah melaksanakan tanam perdana IP300 pada September, diikuti panen raya di Desa Allakuang yang menghasilkan 127 ton per hektare. Bupati juga mengintegrasikan inisiatif lain, seperti kuratif untuk siswa (curfew malam hari untuk cegah kriminalitas) dan akurasi data statistik melalui OPD, untuk menciptakan ekosistem pertanian berkelanjutan. Dukungan Alsintan hari ini diharapkan mengurangi biaya produksi hingga 30%, seperti yang terlihat dari studi di Kabupaten Tegal yang menunjukkan dampak positif penggunaan mesin terhadap produksi padi.

Secara nasional, IP300 mendukung swasembada pangan Indonesia, di mana pemerintah menargetkan serapan 3 juta ton gabah dari petani pada 2026. Di Sidrap, program ini juga menekankan pemberdayaan perempuan petani dan integrasi dengan pariwisata, seperti melalui Monumen Ganggawa yang menjadi simbol kejayaan lama. Namun, tantangan seperti hama tikus dan perubahan iklim tetap ada, sehingga Bupati meminta petani untuk mengikuti pelatihan mekanisasi pertanian.

Dengan komitmen ini, Sidrap berpotensi menjadi model bagi daerah lain, memastikan ketahanan pangan nasional sambil meningkatkan pendapatan petani hingga 50% melalui tiga panen per tahun.(*)