Bupati Syaharuddin Alrif Paparkan Potensi Daerah dan Capaian Pertumbuhan Ekonomi Sidrap di Rakor Porsenijar Sulsel 2026
PELOPORNEWS.SIDRAP — Bupati Syaharuddin Alrif menghadiri rapat koordinasi (Rakor) Porsenijar Sulawesi Selatan Tahun 2026 yang dilaksanakan di Aula Saromase Kompleks SKPD, Jalan Harapan Baru, Kelurahan Batu Lappa, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidrap, Sabtu (16/5/2026).
Dalam sambutannya, Syaharuddin Alrif menyambut baik pelaksanaan kegiatan Porsenijar Sulawesi Selatan 2026 yang akan dipusatkan di Bumi Nene Mallomo pada 2 hingga 6 Juli mendatang.
Di hadapan sekitar 254 peserta yang mewakili 24 kabupaten dan kota se-Sulawesi Selatan, Syaharuddin memaparkan berbagai potensi unggulan Kabupaten Sidrap serta capaian pembangunan yang diraih selama lebih dari satu tahun masa pemerintahannya.
Ia juga menjelaskan makna pakaian yang dikenakannya bersama Wakil Bupati Sidrap yang juga menjabat Ketua PGRI Sidrap. Menurutnya, desain pakaian tersebut dibuat dengan menampilkan ciri khas daerah Sidrap melalui gambar padi, telur, kincir angin, serta Al-Qur’an.
“Ini menggambarkan identitas Sidrap sebagai daerah yang memiliki kekuatan di sektor pangan, peternakan, energi terbarukan, dan keagamaan,” ujarnya.
Syaharuddin menyebut Sidrap saat ini dikenal sebagai empat lumbung nasional, yakni lumbung pangan Indonesia, lumbung telur Indonesia, lumbung energi terbarukan Indonesia, dan lumbung penghafal Al-Qur’an Indonesia.
Ia mengungkapkan, di Kabupaten Sidrap terdapat sekitar 196 rumah tahfidz dan pesantren Al-Qur’an yang selama ini belum banyak terekspos ke publik.
Di sektor energi terbarukan, Sidrap saat ini memiliki 36 turbin angin yang mampu menghasilkan listrik sebesar 75 megawatt (MW). Tahun ini, lanjutnya, akan ada tambahan sekitar 200 turbin dengan kapasitas mencapai 400 MW.
Selain itu, pada periode 2027 hingga 2029 juga direncanakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Danau Sidenreng seluas kurang lebih 400 hektare, termasuk pengembangan PLTS di kawasan pegunungan.
Sementara di sektor pertanian, Syaharuddin memaparkan bahwa luas areal persawahan Sidrap mencapai sekitar 52 ribu hektare dengan pola tanam IP300 atau tiga kali tanam dalam setahun.
“Hasil panen meningkat signifikan. Tahun 2024 nilainya sekitar Rp2,5 triliun dan pada 2025 naik menjadi Rp4,6 triliun,” katanya.
Menurutnya, peningkatan tersebut turut didukung keberadaan 184 pabrik gabah milik masyarakat Sidrap yang menjadi faktor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.
Ia menyebut, sebelumnya Sidrap berada di peringkat ke-21 pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan. Namun berkat kerja keras dan pelayanan kepada masyarakat, kini Sidrap berhasil menduduki peringkat pertama pertumbuhan ekonomi di Sulsel pada tahun 2025.
Tak hanya itu, Sidrap juga terus memperkuat posisinya sebagai lumbung telur Indonesia. Jika sebelumnya produksi telur mencapai 3,2 juta butir per hari, kini meningkat menjadi sekitar 5,2 juta butir per hari yang dipasarkan ke berbagai wilayah Indonesia Timur.
“Ini menjadi kebanggaan bersama dan bukti bahwa Sidrap terus berkembang di berbagai sektor,” tutupnya.(UM)





