Listrik Masuk Sawah Selamatkan Sawah Tadah Hujan di Panca Lautang, Panen Capai 6,4 Ton per Hektare

PELOPORNEWS.SIDRAP – Musim kemarau tak lagi menjadi penghalang bagi petani di Dusun Padaelo, Desa Bapangi, Kecamatan Panca Lautang, Kabupaten Sidrap, untuk menghasilkan panen, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Melalui program Listrik Masuk Sawah dan pompanisasi, lahan yang sebelumnya mengandalkan hujan kini berhasil dimanfaatkan hingga menghasilkan produktivitas padi mencapai 6,4 ton per hektare.
Panen raya tersebut menjadi bukti nyata pemanfaatan teknologi dan dukungan pemerintah dalam menghidupkan kembali lahan sawah tadah hujan.
Bahkan, hamparan persawahan di Padaelo disebut tidak mendapatkan curah hujan yang cukup, namun kondisi tersebut tidak menghalangi petani untuk tetap melakukan budidaya hingga panen.
Dalam kegiatan panen raya tersebut, hasil ubinan menunjukkan produktivitas sekitar 4 kilogram, yang jika dikonversikan mencapai sekitar 6,4 ton per hektare.
H. Muiz Nabila Jaya menyampaikan, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari program Listrik Masuk Sawah yang memungkinkan petani memperoleh sumber air melalui pompanisasi, termasuk dengan memanfaatkan air tanah melalui pengeboran.
Menurutnya, lahan sawah tadah hujan yang sebelumnya belum dapat difungsikan secara optimal kini mulai memberikan hasil bagi petani.
“Ini membuktikan bahwa hamparan sawah yang selama ini tidak pernah difungsikan dengan baik, sekarang sudah bisa panen berkat program listrik masuk sawah dan pompanisasi. Hasilnya mencapai 6,4 ton per hektare,” ujarnya.
Di Desa Bapangi sendiri terdapat sekitar 18 kelompok tani yang terus mendapat dukungan untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
Program tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi padi, tetapi juga berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan dan perekonomian masyarakat.
Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, menegaskan pemerintah daerah akan terus mendorong dan menyalurkan program Listrik Masuk Sawah sebagai bagian dari upaya memperkuat sektor pertanian.
Program tersebut menjadi salah satu strategi untuk membantu petani menghadapi tantangan musim kemarau, terutama bagi wilayah yang selama ini bergantung pada sistem pertanian tadah hujan.
“Semoga ke depan produktivitas terus ditingkatkan sehingga perubahan ekonomi masyarakat di Bapangi juga semakin meningkat,” harapnya.
Pemerintah menargetkan produktivitas padi di wilayah tersebut dapat terus digenjot hingga mencapai 10 ton per hektare.
Dengan dukungan infrastruktur pengairan, teknologi pertanian, serta bantuan kepada kelompok tani, pemerintah optimistis target tersebut dapat diwujudkan secara bertahap.
Bahkan, pemerintah menargetkan pada 2027 tidak ada lagi sawah yang menganggur di Desa Bapangi.
Dukungan terhadap sektor pertanian di Bapangi juga terus diperkuat melalui berbagai program. Pada 2025, tercatat sekitar Rp1,5 miliar dukungan program masuk ke wilayah tersebut, kemudian meningkat menjadi sekitar Rp1,8 miliar pada 2026.
Selain itu, terdapat dukungan sekitar Rp1,7 miliar untuk tiga titik kegiatan.
Secara keseluruhan, berbagai dukungan pembangunan selama dua tahun tersebut disebut mencapai sekitar Rp10 miliar untuk Desa Bapangi.
Panen raya di Dusun Padaelo pun menjadi momentum penting bagi petani untuk membuktikan bahwa keterbatasan air bukan lagi alasan untuk membiarkan lahan pertanian tidak produktif.
Dengan semangat kerja keras dan slogan Saromase, pemerintah bersama petani terus mendorong perubahan sektor pertanian agar semakin produktif, mandiri, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Bapangi. (*)






