Mahasiswa Calon Guru dan Etika Berbicara di Kampus
Oleh: Sudarto
Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar
Email: drsudartompd@gmail.com
Berinteraksi antara mahasiswa dan dosen adalah hal yang biasa di lingkungan kampus. Namun, tidak semua mahasiswa mampu melakukannya dengan cara yang santun dan beretika, terutama dalam hal berbicara. Padahal, keterampilan berbicara yang baik mencerminkan kedewasaan berpikir dan kesiapan seseorang untuk menjadi pendidik profesional.
Bagi mahasiswa calon guru, kemampuan berbicara yang sopan, nyambung dengan topik, tidak menyela, dan penuh empati bukan sekadar etika sosial, tetapi juga bekal utama dalam menjalani profesi guru di masa depan. Guru adalah teladan. Maka, sikap santun dalam berbicara seharusnya sudah dibentuk sejak duduk di bangku kuliah.
Realitas di Kampus: Masih Banyak yang Kurang Terampil
Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 80 mahasiswa PGSD FIP Universitas Negeri Makassar Kampus VI Bone menunjukkan fakta menarik sekaligus mengkhawatirkan. Sebagian besar mahasiswa memang sudah terbiasa bersikap tidak kasar dan selalu mengucapkan terima kasih di akhir percakapan. Namun, dalam aspek lain, keterampilan berbicara mereka masih jauh dari ideal.

Sebagian besar mahasiswa sering menyela pembicaraan, kurang nyambung dengan topik yang sedang dibicarakan, dan kurang memperhatikan waktu saat berinteraksi dengan dosen. Tidak sedikit pula yang berbicara dengan nada memerintah, atau tidak menunjukkan empati ketika dosen sedang menjelaskan.
Dalam penelitian ini, hanya 33,75 persen mahasiswa yang tidak menyela pembicaraan, dan hanya 37,5 persen yang berbicara nyambung dengan topik. Sebaliknya, lebih dari 70 persen mahasiswa sudah terbiasa bersikap tidak kasar dan berterima kasih di akhir percakapan. Artinya, mereka memiliki niat baik, tetapi masih kurang dalam aspek kesantunan komunikasi akademik.
Berbicara Itu Cermin Kepribadian
Keterampilan berbicara bukan hanya soal kata-kata, tetapi juga mencerminkan kepribadian dan kemampuan memahami lawan bicara. Seorang mahasiswa yang mampu berbicara dengan sopan, tidak memotong pembicaraan, dan memberi perhatian penuh saat berbicara dengan dosennya, menunjukkan bahwa ia menghargai ilmu dan orang yang mengajarkannya.
Sayangnya, di era digital saat ini, komunikasi yang cepat dan instan sering membuat mahasiswa terbiasa berbicara tanpa filter. Cara bicara yang lugas kadang bergeser menjadi kasar, dan keinginan untuk menyampaikan pendapat sering mengalahkan sopan santun dalam berdialog.
Bekal Penting untuk Calon Guru
Jika mahasiswa calon guru tidak dibiasakan berinteraksi dengan etika dan tutur yang baik, maka akan sulit bagi mereka menjadi pendidik yang mampu menjadi teladan bagi murid-muridnya. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga panutan dalam sikap dan perilaku berbahasa.
Oleh karena itu, dosen perlu memberi ruang dan bimbingan bagi mahasiswa untuk belajar berkomunikasi dengan baik. Pembelajaran tidak hanya soal teori, tetapi juga bagaimana mengajarkan nilai-nilai etika, sopan santun, dan empati dalam berbicara.
Penutup: Mari Kembalikan Keindahan Bahasa Akademik
Hasil penelitian sederhana ini memberi pelajaran berharga. Mahasiswa kita sejatinya memiliki potensi besar dalam bersikap sopan dan menghargai dosennya, tetapi masih perlu pembinaan dalam hal keterampilan berbicara yang beretika.
Mari kita kembalikan keindahan bahasa akademik di kampus — bahasa yang sopan, berisi, beretika, dan mencerminkan kecerdasan. Sebab, cara kita berbicara adalah cermin dari siapa diri kita, dan itulah yang akan dilihat oleh generasi yang kita didik kelak.





