Tak Puas Hasil Pekerjaan Pengerukan Sungai Warga Hentikan Sementara Pekerjaan di Sumpang Mango

PELOPORNEWS.SIDRAP – Puluhan petani di Desa Sumpang Mango, Kecamatan Pitu Riawa, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, mendatangi lokasi pengerjaan optimalisasi lahan (Oplah) rawa berupa pengerukan saluran air, Kamis (15/10/2026).
Kedatangan mereka untuk menyampaikan kekecewaan terhadap hasil pekerjaan yang dinilai tidak sesuai dengan harapan dan kondisi saluran yang dibutuhkan petani.
petani juga mempertanyakan terkait Papan proyek di lokasi pekerjaan yang tidak ada sehingga mereka menilai proyek ini tidak transparan
Para petani meminta pengerjaan tersebut dihentikan sementara untuk dilakukan evaluasi dan musyawarah bersama.
Mereka khawatir pekerjaan yang terkesan asal jadi itu justru berdampak pada fungsi saluran irigasi yang sangat dibutuhkan untuk menunjang aktivitas pertanian.
H. Zainuddin dan Lasse, yang mewakili aspirasi petani, menegaskan bahwa pekerjaan sebaiknya tidak dilanjutkan sebelum ada koordinasi dan kesepakatan bersama mengenai teknis pengerjaan di lapangan.
Menurut mereka, anggaran yang digunakan bukan jumlah kecil sehingga pelaksanaannya harus benar-benar memperhatikan kebutuhan petani sebagai pihak yang akan merasakan langsung manfaat program tersebut.
“Lebih baik dihentikan sementara daripada dikerjakan asal jadi. Musyawarahkan kembali dengan petani supaya hasilnya sesuai kebutuhan. Ini bukan anggaran kecil,” ungkap mereka.
Petani juga mempersoalkan kondisi saluran yang dinilai justru menyempit setelah dilakukan pengerukan. Padahal, menurut mereka, saluran tersebut seharusnya diperlebar agar mampu menampung dan mengalirkan air dengan lebih baik.
Mereka menyebut, berdasarkan kondisi dan kebutuhan awal, pengerjaan saluran diharapkan memiliki kedalaman sekitar dua meter dan lebar enam meter.
Namun, hasil pekerjaan yang terlihat di lapangan dinilai tidak sesuai dengan ukuran dan harapan tersebut.
“Saluran yang dasarnya luas, kenapa justru dipersempit? Seharusnya diperlebar agar aliran air lebih bagus. Kami berharap pekerjaan ini diperbaiki sesuai hasil pengukuran awal,” keluh petani.
Kekecewaan serupa disampaikan Mulyadi, salah seorang petani setempat. Ia meminta pengerjaan dihentikan sementara sambil dilakukan koordinasi ulang dengan pihak terkait agar pekerjaan optimalisasi lahan rawa benar-benar memberikan manfaat bagi petani.
Menurutnya, persoalan teknis seperti lebar dan kedalaman saluran perlu dibicarakan kembali agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari, terutama ketika petani membutuhkan pasokan air untuk mengairi lahan pertanian mereka.
Kepala Dusun I Desa Sumpang Mango, Andi Asri, mengaku tidak mengetahui secara pasti persoalan teknis yang terjadi dalam pengerjaan tersebut.
Namun, ia menyebut sejak awal masyarakat berharap kegiatan itu dikerjakan oleh pihak yang sebelumnya terlibat dalam survei lokasi bersama petani.
Ia mengaku belum mengetahui secara pasti siapa pihak yang melaksanakan pekerjaan saat ini. Kondisi tersebut membuat petani mempertanyakan hasil pengerjaan yang dianggap berbeda dari harapan semula.
Sementara itu, Kepala Dusun II Sumpang Mango, Mansur, juga menyampaikan kekecewaannya terhadap hasil pekerjaan yang menurut informasi warga dilaksanakan oleh pihak kontraktor.
“Petani di sini sangat kecewa. Tidak seperti apa yang diharapkan dari awal saat pengukuran,” tegas Mansur.
Petani menilai pelibatan TNI dalam pengerjaan optimalisasi lahan rawa perlu dipertimbangkan kembali.
Pasalnya, sejak tahap awal, anggota Kodim 1420/Sidrap disebut telah bersama petani melakukan survei lokasi untuk menentukan kebutuhan pengerjaan agar sesuai dengan kondisi di lapangan.
Mereka berharap pelaksanaan kegiatan dapat kembali dikoordinasikan dengan pihak-pihak yang memahami hasil survei awal serta kebutuhan petani, sehingga pekerjaan tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga berfungsi optimal untuk mendukung pertanian.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, program optimalisasi lahan rawa tersebut mencakup wilayah Kecamatan Dua Pitue dan Pitu Riawa dengan luasan sekitar 1.700 hektare dan anggaran kurang lebih Rp7,9 miliar yang bersumber dari APBN melalui Kementerian Pertanian.
Pengerjaan disebut telah berlangsung sekitar satu pekan, dengan panjang saluran yang direncanakan dikerjakan mencapai enam kilometer.
Petani juga menyoroti skema pelaksanaan kegiatan yang mereka sebut sebagai swakelola tipe II. Mereka berharap mekanisme pelaksanaan dan pihak yang bertanggung jawab dapat dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Para petani berharap pemerintah dan pihak terkait segera turun tangan untuk melakukan pemeriksaan di lapangan, mengevaluasi hasil pengerjaan, serta menggelar musyawarah bersama sebelum kegiatan dilanjutkan.
Mereka menegaskan, tujuan utama program optimalisasi lahan rawa seharusnya meningkatkan fungsi saluran air dan mendukung produktivitas pertanian, bukan justru menimbulkan kekecewaan bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian. (UM)





