April 16, 2026

Di Bulan Ramadhan: Kita Tempa Pemimpin Sejati dari Telaga Lapar ke Puncak Rahmat

SGN_02_22_2026_1771761911600

Di Bulan Ramadhan: Kita Tempa Pemimpin Sejati dari Telaga Lapar ke Puncak Rahmat

Oleh: Sudarto (Dosen Universitas Negeri Makassar, FIP PGSD)

Bayangkan telaga (sungai) susu yang bening mengalir deras, membasahi tanah kering menjadi subur, menyirami bibir haus menjadi segar. Itulah Ramadhan, sungai kepemimpinan yang mengalir pelan tapi pasti, menempa jiwa-jiwa tangguh menjadi pemimpin sejati. Bukan pemimpin yang lahir dari pesta mewah atau kursi empuk, tapi dari telaga lapar dan haus, dari berbagi receh demi senyumnya rakyat. Di bulan suci ini, Allah SWT membuka rahasia: kepemimpinan hakiki lahir bukan di balai kota megah atau di bilik suara, melainkan di setiap masjid ramai dan kedai maghrib yang harum. Pemimpin Ramadhan rela puasa demi rakyat, hati selalu ingat Allah, jauh dari korupsi, dan dicintai karena adil. Mari kita ikuti aliran sungai ini, menyusuri rahasia yang jarang tergali.

Aliran pertama sungai Ramadhan mengajarkan rela lapar dan haus demi rakyat. Pemimpin sejati tak duduk manis di ruang ber-AC atau kursi empuk, tapi turun ke jalan seharian dan semalaman, mata merah merasakan getirnya perjuangan rakyat. Bayangkan seorang kepala desa atau lurah di lorong-lorong atau pelosok – pelosok, bangun dini hari untuk sahur sederhana, lalu keliling kampung tanpa sarapan seperti biasanya. Ia haus di bawah terik matahari, tapi matahari itu sama bagi semua. Ramadhan ciptakan empati ini: lapar perut pemimpin jadi cermin laparnya rakyat. Rasulullah SAW, pemimpin teladan, rela berpuasa demi umat meski ia pemimpin besar. Beliau berkata, “Puasa adalah perisai.” Perisai bagi pemimpin dari egoisme, agar rela berbagi rezeki. Di warung pinggir jalan, ia bagikan takjil, bukan untuk kampanye dan pencitraan, tapi ikhlas demi kesejahteraan. Sungai susu Ramadhan mengalir, membasuh hati pemimpin dari keserakahan.

Lalu, aliran sungai mengalir ke rahasia berbagi. Pemimpin Ramadhan tak simpan zakat di laci mejanya, tapi sebar luas untuk rakyat miskin di lorong-lorong. Ia rela potong gaji untuk infak, karena pahala berlipat dan sebagai percontohan. Bukan pemimpin yang lahir dari pesta korupsi, suap, kongkalikong dan manipulasi, tapi dari shaf tarawih panjang dan witir malam-malam. Ia dicintai rakyat karena ketulusannya, jauh dari manipulasi dan janji palsu. Kisah nyata: walikota kecil di sebuah provinsi, setiap Ramadhan turun ke pasar, bantu jualan pedagang kecil. Rakyat lihat, hati luluh. Ia tak sentuh suap, karena hati selalu ingat Allah. Sungai bening ini cuci jiwa dari noda gelap, ciptakan pemimpin yang status rakyat sama di matanya: si kaya tak lolos korupsi, si miskin tak antre pelayanan.

Ramadhan ungkap rahasia lahirnya pemimpin sejati: bukan dari warisan politik, tapi tempaan ibadah. Kantornya adalah setiap masjid di mana ia jadi imam atau makmum biasa. Warung makannya kedai maghrib sederhana, karena ia selalu puasa : tak tergoda restoran elite. Bayangkan pemimpin seperti ini: pagi sholat shubuh di masjid lorong, siang keliling RT tanpa pengawal mewah, saat maghrib buka di warung tenda bersama buruh. Ia bebas dosa karena taubat di Lailatul Qadar, kesalahannya dihapus oleh shalat malam. Hukum adil baginya: anaknya sendiri antre sekolah negeri, tak pake prioritas dan fasilitas. Pelayanan sama: keluhan rakyat didengar langsung, bukan lewat staf. Sungai susu Ramadhan iringi langkahnya, buat ia tangguh, dicintai tanpa diminta.

Aliran sungai makin deras saat bicara hati ingat Allah. Pemimpin Ramadhan tak korupsi karena takut hisab akhirat. Ia ingat firman Allah di surah Al-Hasyr: “Apa yang ada di hati manusia, Allah mengetahuinya.” Setiap rupiah rakyat jadi amanah, bukan diakumulasi dan dimanipulasi. Jauh dari skandal, ia bangun infrastruktur yang sesuai kebutuhan rakyat banyak, bukan jalan tol berbayar yang susahkan rakyat. Rakyat cintai ia karena lihat teladan: dzikir subuh, senyum ramah. Bukan pemimpin teater, tapi sahabat rakyat sejati.

Sungai Ramadhan juga tempakan kepemimpinan adil. Status samakan: pengusaha besar bayar pajak penuh, petani kecil dapat subsidi tepat. Pelayanan merata: rumah sakit tak pandang kasta, jalan desa sama rata dengan jalan kota. Pemimpin ini lahir dari puasa yang hapus dosa, shalat yang kuatkan iman. Bebas kesalahan karena muhasabah malam hari. Kisah inspiratif: gubernur masa lalu, setiap Ramadhan tutup kantor sore untuk tarawih, besok pagi evaluasi kinerja dengan azan subuh. Rakyat ikut, semangat naik.

Bayangkan Indonesia penuh pemimpin Ramadhan: presiden puasa Senin bukan pencitraan, menteri tarawih berbaur jamaah, bupati bagi takjil dari uang pribadi bukan lewat bendahara. Sungai susu bening alir deras, basahi negeri kering korupsi jadi hijau sejahtera. Pemimpin sejati lahir di sini, dicintai rakyat abadi.

Penutup: Ramadhan ajak kita semua, pemimpin atau rakyat, ikut aliran sungai ini. Rela lapar demi empati, berbagi demi keadilan, ingat Allah demi integritas. Jadilah pemimpin mulai di lingkungan kecil: keluarga, RT, kantor menuju lingkungan lebih besar. Sungai susu Ramadhan tunggu kita, bening dan manis, menuju puncak rahmat-Nya.