Di Balik Ramainya Kedai Makan di Siang Bolong: Ramadhan yang Ditinggalkan Duluan
Di Balik Ramainya Kedai Makan di Siang Bolong: Ramadhan yang Ditinggalkan Duluan
Oleh: Sudarto (Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)
Di siang bolong, di pinggir-pinggir jalan Kota M dan S, tepat 27 Ramadhan 1447 H/2026 M, panas terik membakar aspal, diiringi deru kendaraan lalu lalang melintang, tapi antrean panjang justru mengular di depan kedai makan warung Y. Pria berjubah sorban berbadan gempal memesan rendang kambing porsi besar. Wanita berjilbab berbadan bonsor dan lebar memesan ayam goreng dan semangkok bakso sambil tertawa riang seolah tak ada dosa. Takbir Idul Fitri “sudah terdengar” samar duluan di telinga mereka. Padahal, puasa masih ada dua tiga hari lagi. Kenapa kedai makan ramai di siang bolong? Fenomena ini bukan hanya soal lapar dan haus. Ini cerminan lemahnya keimanan sebagian umat Islam. Mereka menganggap Ramadhan sebagai beban jiwa dan raga, bukan nikmat abadi yang dirindukan.

Fenomena di atas bagaikan mahasiswa yang lagi skripsi. Karena “dibentak” saat bimbingan oleh dosen pembimbingnya, ia hilang entah kemana. Padahal, tinggal dua tiga halaman lagi butuh perbaikan. Mahasiswa seharusnya tangguh menyelesaikan skripsi, malah “menyerah” dan kabur di hari-hari terakhir perkuliahan. Ia tinggalkan dosennya duluan. Begitulah Ramadhan yang suci. Bulan yang penuh rahmat justru ditinggalkan duluan oleh sebagian umat Islam. Ini bukan sekadar soal lapar. Tapi rapuhnya pemahaman terhadap ajaran Islam yang indah dan penuh hikmah. Akhir Ramadhan seharusnya puncak kesabaran. Bukan momen menyerah. Takbir tak lama lagi bergema. Ibadah seharusnya memuncak. Tapi kedai makan malah penuh sesak. Pria berjubah itu memesan dengan lahap. Wanita berjilbab tertawa lepas. Mereka lupakan lapar jiwa. Hanya puaskan nafsu perut. Ini sungguh ironis.
Penyebab pertama adalah dibiarkannya warung-warung dan kedai buka di bulan Ramadhan menjelang akhir. Pemerintah izinkan operasional terbatas. Alasannya, hak ekonomi pedagang. Tapi akibatnya fatal. Umat tergoda makan siang terang-terangan. Di siang bolong, aroma sate, soto, coto, pallubasa dan nasi goreng menguar mengepul bebas. Tak ada lagi rasa malu. Ramadhan yang suci dijadikan mainan. Warung Y itu contoh nyata. Antrean panjangnya simbol kemerosotan. Dulu, penutupan total ciptakan suasana khidmat. Kini, fleksibilitas ekonomi bunuh disiplin ibadah. Umat tak lagi lawan godaan. Mereka ikut arus hedonisme. Ini pelajaran berharga. Kebebasan tanpa aturan lahirkan kekacauan. Ramadhan butuh pengawasan ketat. Bukan kelonggaran yang membebaskan umat yang masih “belajar syariat”.
Penyebab kedua adalah anggapan sebagian masyarakat kuno bahwa tidak boleh puasa penuh. Itu pamali. Di desa-desa terpencil, orang tua wariskan mitos ini dan berlanjut di kota saat mereka hijrah. Puasa 30 hari penuh katanya bikin sakit. Atau undang sial. Akar budaya lokal yang sesat campur aduk syariat. Di Kota M, ibu-ibu pasar bisik-bisik begitu. “Jangan puasa sampe lebaran. Kasihan badan ta.” Akibatnya, hari terakhir mereka langgar suka-suka. Takbir jadi alasan. Padahal, Rasulullah SAW ajarkan puasa sampai hilal 1 Syawal terlihat. Mitos pamali ini rapuh sungguh merusak. Padahal, puasa itu latih ketahanan fisik, bukan racun menglambat. Tapi kepercayaan turun-temurun susah dihapus. Ia jadi tameng bagi yang malas. Ramadhan pun mereka tinggalkan duluan, alih-alih menangis meratapi kepergiannya Esensi taqwa hilang tergantikan takhayul. Pendidikan agama mendesak ditingkatkan. Ulama harus bantah mitos ini dengan bijak dan ilmiah.
Penyebab ketiga adalah adanya masyarakat yang tidak saling kenal dan tidak saling peduli. Urbanisasi bikin orang asing satu sama lain. Di pinggir jalan Kota S, pria berjubah itu tak peduli tetangga sebelah puasa atau tidak. Wanita berjilbab tak malu makan di depan pengamen yatim. Individualisme merajalela. Media sosial tambah parah. Orang sibuk selfie makanan. Bukannya introspeksi diri akan jiwa. Di masjid sepi siang hari. Kedai malah ramai melonjak. Tak ada teguran sesama, semua tak peduli. Tak ada gotong royong iman. Dulu, kampung saling awasi. Kini, kota besar lahirkan anonimitas. Ramadhan yang seharusnya satukan umat malah pecah belah. Yang kuat iman bertahan sendirian. Yang lemah tergelincir bebas tanpa rem. Ini tragedi modern. Ukhuwah islamiyah wajib dibangun kemabali lewat ceramah tarawih atau kultum shubuh. Solusi bijaknya?
Solusi nyata dimulai dari keluarga. Orang tua ajarkan anak arti pamali puasa itu salah. Sekolah integrasikan pendidikan Ramadhan holistik. Ulama kampanyekan hisab rukyat akurat. Pemerintah atur jam operasional ketat. Masyarakat bangun silaturahmi digital. Grup RT WhatsApp awasi sesama. Media promosi akhir Ramadhan khidmat. Takbir bukan sinyal pesta. Tapi panggilan muhasabah. Contoh di pesantren modern. Santri bertahan puasa penuh. Mereka diskusikan hikmah logis. Hasilnya, iman kokoh. Tak tergoda kedai. Ini model bagi umat.
Akhirnya, Ramadhan ajarkan ketangguhan sampai detik terakhir. Takbir Idul Fitri saksi kemenangan. Bukan kemenangan palsu oleh nafsu. Kedai ramai siang bolong adalah peringatan. Umat Islam bangkitlah. Jangan tinggalkan Ramadhan duluan!. Jadikan bulan suci guru abadi. Latih jiwa dengan HOTS tinggi. Lawan mitos dengan ilmu yang disadari. Bangun peduli dengan silaturahmi. Puasa sempurna lahirkan ridho Ilahi. Muslim kaffah pun tercapai. Surga dunia akhirat menanti. Mari ubah narasi tahun depan: Ramadhan 1448 H yang beda dari hari ini. Di akhir ramadhan nantinya, masjid penuh sesak tak ada lagi di kedai. Tapi hadir takarruf di masjid sambil nunggu takbir dimulai. Insya Allah, semua bisa berubah dengan ijin Allah, TuhanYang Maha Peduli..





