Modern Janjikan Mudah-Murah-Aman: Faktanya Harga Meledak, Miskin-Kaya Menganga, Hidup Ribet—Salahnya Dimana? Solusinya Apa?
Modern Janjikan Mudah-Murah-Aman: Faktanya Harga Meledak, Miskin-Kaya Menganga, Hidup Ribet—Salahnya Dimana? Solusinya Apa?
Oleh: Sudarto (Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)
Zaman maju modern janji indah: hidup mudah scan QRIS belanja, murah langganan streaming Rp50 ribu, aman CCTV jalanan 24 jam. Realitas 2025 pilu: harga beras Rp18 ribu/kg melonjak inflasi 2,21% Jakarta, kelas menengah terjepit PPN 12% plus Tapera, jurang kaya-miskin menganga indeks Gini 0,381—25 juta miskin kronis BPS, kelas menengah rawan tergelincir ke bawah. Kekacauan dimana-mana: banjir Sumatera lumpuhkan ekonomi, macet Jakarta 4 jam rugi Rp100 triliun/tahun, hidup serba ribet aplikasi error batal transaksi, utang kartu kredit meledak 20%. Modern kok gini? Salahnya ego sistem kapital tak terkendali, prioritas untung korporasi bukan untuk rakyat, solusinya keseimbangan: teknologi bantu manusia, pemerintah lindungi dan majukan si miskin, budaya sederhana hemat—hidup benar-benar mudah murah aman.

Janji modern menggiurkan. Internet 5G unduh film 10 detik, ojek online pesan 2 menit datang, belanja online gratis ongkir. Hemat waktu: dulu antre di bank 1 jam, kini transfer 5 detik. Aman canggih: e-KTP cegah pemalsuan, polisi cyber tangkap hacker. Murah janji: smartphone Rp2 juta spek monster, listrik pintar hemat 20%. Tapi faktanya?? Harga melonjak brutal: BBM naik Rp2 ribu/liter, listrik token naik Rp500/kWh, sekolah swasta Rp50 juta/tahun. BPS Juli 2025 catat kemiskinan turun tipis 0,2% tapi rasio Gini naik—si kaya tambah kaya saham kripto, si miskin tambah susah sekalipun hanya cicilan HP. Jurang menganga: 1% terkaya kuasai 50% kekayaan nasional Oxfam, kelas menengah UPN “Veteran” Jakarta terjepit upah Rp3 juta vs biaya hidup Rp15 juta.

Kekacauan sungguh luar biasa. Banjir Sumatera 2025 rugi Rp50 triliun infrastruktur, macet Jakarta bakar BBM Rp100 triliun/tahun BPS, polusi udara PM 2.5 bunuh 100 ribu orang/tahun. Hidup ribet: aplikasi QRIS error batal belanja, MyBCA saldo nol viral, refund 7-14 hari. Kesehatan mahal: obat generik langka, RS swasta Rp20 juta/Covid ringan. Pendidikan online: anak SD gaptek zoom drop out 15%. Sosial chaos: bullying medsos remaja bunuh diri naik 30%, isolasi digital depresi milenial 40%. Modern kok tambah susah? Jawabannya sistem kapital liar: korporasi untung triliunan, rakyat bayar pajak subsidi BUMN rugi, impor barang mewah banjiri lokal UMKM kolaps.

Salahnya dimana? Pertama, modernitas salah prioritas: teknologi canggih tapi infrastruktur macet banjir, 5G Jakarta sinyal drop desa nol bar. Kedua, kapitalisme tak terkendali: Gojek untung Rp10 triliun untung ojek online miskin cicilan motor. Ketiga, kebijakan timpang: PPN 12% bebankan rakyat menengah bawah, subsidi BBM kaya mobil mewah. Keempat, budaya konsumsi boros: kredit HP flagship Rp20 juta gengsi, lupa tabung darurat. Kelima, korupsi sistemik: APBN bocor Rp500 triliun/tahun, uang rakyat hilang proyek mangkrak. Modern janji mudah, faktanya ribet karena sistem ambil untung rakyat yang bayar.

Solusi konkretnya keseimbangan. Pertama, teknologi bantu manusia bukan gantikan manusia: QRIS dan tunai hybrid cegah error batal, aplikasi desa offline transaksi lancar. Kedua, pemerintah lindungi si miskin: subsidi pangan targeted 20 juta PKH dan BLT desa, PPN barang mewah 20% turunkan esensial 5%. Ketiga, ekonomi inklusif: lindungi UMKM impor Cina via cukai digital, inkubasi startup halal Rp50 juta/tahun. Keempat, infrastruktur prioritas: bendungan 100 unit cegah banjir, tol Trans-Sulawesi lancar logistik harga turun 15%. Kelima, budaya hemat berkah: kampanyekan “Modern dan Sederhana” TikTok, zakat digital 2,5% otomatis, wakaf produktif peternakan desa. Hasil? Harga akan stabil, jurang miskin kaya tak nampak lagi alias tutup. Gini 0,35, hidup mudah dan aman.
Contoh sukses nyata. Malaysia subsidi beras targeted 10 juta miskin harga stabil Rp12 ribu/kg. Singapura hybrid transport: MRT dan ojek manual macet nol. Jepang budaya hemat: kereta peluru dan sepeda umum, GDP per capita $40K hemat energi. Di Indonesia Warung soto Losari hybrid: error QRIS cash bayar, ramai terus. Kelas menengah UPN Veteran: workshop hemat digital, tabungan naik 25%. Solusi bukan utopia, tapi eksekusi tegas.
Manfaat solusi dahsyat. Mudah: transaksi hybrid <10 detik, aplikasi offline desa lancar. Murah: subsidi targeted harga pangan stabil, UMKM lindungi impor turun 20%. Aman: infrastruktur bendungan nol banjir, polisi cyber dan patroli desa harmoni. Ekonomi: GDP tumbuh 7%, kemiskinan tinggal 5%, Gini 0,35. Sosial: gotong digital-manual, bullying turun 40%. Tantangan: korupsi mental “modern boros,” lawan dengan Fatwa MUI anti ribawi digital, bank pun tidak berbunga cukup biaya administrasi, sekolah ajar hemat berkah. Pemerintah: APBN 2026 prioritas 40% infrastruktur dan subsidi pintar.
Visi Indonesia modern benar 2030: harga beras Rp10 ribu/kg, macet nol tol gratis desa, transaksi hybrid 100%, kemiskinan tinggal 3%, Gini 0,30. Tak ada lagi keluhan “modern ribet mahal,” tapi “hidup mudah murah aman.” Petani padi di Maros untung, nelayan pinisi di Bantaeng pake QRIS dan tunai ekspor, guru P5 hemat BOS bangun lab digital dan juga manual. Modern sejati: teknologi bantu rakyat, pemerintah lindungi, budaya hemat—janji terpenuhi!
Penutup: Modern maju seharusnya mudah murah aman, faktanya ribet mahal chaos karena sistem salah prioritas. Solusi keseimbangan: teknologi hybrid, subsidi pintar, budaya hemat, infrastruktur kuat—eksekusi tegas sekarang. Hidup modern bahagia bukan mimpi: harga stabil, jurang tutup, aman jaya. Mulai hari ini: dompet hybrid, belanja lokal, hemat berkah—Indonesia Emas mudah murah aman!. Dan, Jaya!!




