Bijak di Balik Penentuan Awal-Akhir Ramadhan
Bijak di Balik Penentuan Awal-Akhir Ramadhan
Oleh: Sudarto (Dosen Universitas Negeri Makssar FIP PGSD)
Penentuan awal dan akhir Ramadhan selalu menjadi perdebatan hangat di kalangan umat Islam selama ini. Ada yang hanya bergantung pada rukyatul hilal atau hanya pada kalender Hijriyah. Padahal, di baliknya terdapat perbedaan wawasan dan cara berpikir. Ada yang menganut LOTS, berpikir tingkat sederhana. Ada pula yang menerapkan HOTS, berpikir tingkat tinggi penuh analisa. Artikel ini menguraikan perbedaan metode penentuan awal dan akhir Ramadhan secara bijak. Selain itu, membahas kelemahan kedua pendekatan tersebut. Lebih lanjut, menekankan peran HOTS dalam menyempurnakan pelaksanaan ibadah. Semua demi akurasi puasa yang presisi.

Perbedaan Penentuan Awal dan Akhir Ramadhan
Penentuan awal dan akhir Ramadhan mengandalkan dua cara: rukyat dan hisab. Rukyat mengamati bulan sabit secara langsung dengan mata telanjang ataupun pakai alat bantu. Hisab menghitung posisi hilal secara matematis astronomis . Keduanya bertolak dari sabda Rasulullah SAW. Beliau menekankan pengamatan hilal untuk memulai dan mengakhiri puasa. Namun, penutup Ramadhan lebih fleksibel. Metode pertama bersifat empiris dan praktis. Metode kedua bersifat tabular. Perbedaan ini mencerminkan paradigma berpikir LOTS dan HOTS. LOTS cenderung menerima apa adanya tanpa pikir panjang. HOTS menggali lebih dalam. Akibatnya, umat terbagi dalam Idul Fitri. Yang satu lebaran hari ini. Yang lain besoknya. Fenomena ini bukan hal baru. Ia berulang hampir di setiap tahun. Walaiupun sebenarnya, tujuan ramadhan adalah menyatukan umat, bukan memecah belahnya.

Kelemahan Metode Rukyatul Hilal
Rukyatul hilal memiliki kelebihan tertentu. Namun, kelemahannya juga ada. Pertama, jika cuaca buruk maka pengamatan langsung sulit dilakukan. Awan tebal menutupi langit. Hilal tak terlihat meski sebenarnya sudah muncul. Kedua, keterbatasan pandangan mata. Mata telanjang sulit mendeteksi hilal tipis. Ketiga, subjektivitas saksi. Klaim “terlihat” bisa bias emosional. Keempat, koordinasi antar daerah lemah. Indonesia luas. Hilal di Aceh bisa beda dengan di Papua. Akibatnya, penetapan nasional sering kontroversial. Majelis Ulama Indonesia (MUI) berupaya menstandardisasi. Namun, penerimaan publik tetap terbelah. Metode ini sebenarnya sudah usang. Ia tak adaptif dengan kemajuan sains dan perkembangan zaman. Akhirnya, akurasi puasa bisa terganggu. Umat pun bisa kebingungan.
Kekurangan Metode Kalender Hijriyah
Sementara itu, kalender Hijriyah tampak lebih praktis. Buku, kalender hijriyah atau aplikasi tersedia bebas dan mudah. Namun, kekurangannya tetap ada. Pertama, orbit bulan tak linier sempurna. Kedua, kurangnya validasi empiris terhadap penanggalan yang ada. Kalender cetak belum tentu terverifikasi rukyat tahunan yang konsisten. Ketiga, variasi kalender: ada yang versi Muhammadiyah, ada pemerintah, ada Samarra. Keempat, rawan kesalahan cetak. Edisi lama bisa saja tak update. Akibatnya, kesalahan tanggal bisa saja terjadi. Umat yang buka kalender saja merasa aman. Metode ini modern.
Jadi, kedua metode di atas punya celah. LOTS melihatnya sekilas. HOTS menganalisisnya mendalam. Bagaimana membijaksanai keduanya?
HOTS Memahami Kelemahan dan Memberi Solusi Bijak
HOTS, Higher Order Thinking Skills, adalah berpikir tingkat tinggi. Ia melibatkan analisis, evaluasi, dan kreasi. Berbeda dengan LOTS yang hafalan dan pemahaman dasar. HOTS memandang kelemahan rukyat dan kalender secara kritis. Pengamat menyadari cuaca dan subjektivitas rukyat. Juga kemungkinan adanya ketidakakuratan kalender tabular. Solusinya adalah hisab berakur rukyat. Kombinasikan astronomi modern dengan pengamatan terverifikasi. Gunakan teleskop anti cuaca. Integrasikan data satelit. Validasi dengan saksi terlatih. Ini mengatasi cuaca buruk. HOTS mendorong inovasi. Susun kalender Hijriyah yang benar-benar presisi dan berlaku di dua belas bulan Qomariyah dengan data akurat selama minmal sepuluh tahun Hijriyah. Umat tak lagi bertengkar. Puasa berjalan presisi. Berpikir HOTS membuat ibadah komprehensif, aktual, penuh pendalaman logika dan nakli. Rasulullah menganjurkan hisab jika hilal tertutup, artinya hisab lebih luas cakupannya. Ini bukti fleksibilitas dan kemudahan syariat. HOTS menjembatani tradisi dan sains. Hasilnya, pelaksanaan agama semakin mantap dan maju.
LOTS Hanya Melihat yang Tersurat
LOTS (Lower Order Thinking Skills) terbatas pada apa yang tersurat atau terlihat. Mereka ikut rukyat buta. Atau, buka kalender pasrah. Tak peduli kelemahan yang mungkin ada. Tak cari solusi. Akibatnya, pelaksanaan agama jauh dari esensi, itu-itu saja dari tahun ke tahun jauh dari kemajuan. Padahal, Allah turunkan agama Islam ini untuk kemaslahatan umat, untuk kemajuan peradaban manusia lahir batin. Bukan untuk kekacauan. Al-Qur’an ajak berpikir. “Afala ta’qilun?” (tidakkah kamu berpikir?). LOTS abaikan yang tersirat apalagi esensialitas. Hanya ritual semata. Puasa jadi formalitas belaka. Idul Fitri terpecah, mereka abaikan saja seolah tak ada masalah. Ukhuwah islamiyah tak kuat. Padahal, Islam ajarkan ijtihad. Berpikir mendalam. LOTS itu stagnan. Sebaliknya, HOTS itu progresif. Perbedaan ini krusial. Umat butuh kesadran cepat untuk transformasi.
Perlunya Umat Islam Ber-HOTS
Umat Islam wajib ber-HOTS demi kemajuan beragama dan peradaban, menuju Islam kaffah hakiki di segala aspek kehidupan. Kaffah artinya sempurna. Hakiki artinya sebenarnya. Bukan formalitas saja. HOTS satukan rukyat dan hisab dalam hubungan yang saling dukung, bukan saling klaim. Akuratkan tanggal Ramadhan. Perkaya pemahaman fiqih. Logika diperkuat nakli atau nakli didukung logika. Hasilnya, surga duniawi dan ukhrawi. Duniawi: persatuan umat terjalin. Ukhrawi: pahala puasa sempurna. Misal, Muhammadiyah pakai hisab. Hasilnya konsisten. MUI bisa adopsi hisab-rukyat secara holistik, integratif, teoritis, dan akuntabilitis. Ini bukti HOTS berbuah. Pendidikan HOTS di pesantren sangat perlu. Kurikulum Merdeka perlu ditambahi Mata Pelajaran Astronomi Islamis. Umat jadi terdidik dan kritis. Beragama semakin cerdas. Tak fanatik buta, jumuk dan pesimis. Islam kaffah lahir dari kesadaran dan pikiran tajam yang jenius, bukan gebrak meja atau hentak mimbar penuh emosi tak humanis. Ayok ber_HOTS, demi kemajuan umat yang semakin Joss! Tahun depan, insya Allah menetukan awal-akhir ramadhan tak lagi adu “jotos”. Umat menyatu adem tak lagi panas. Puasa pun semakin jelas, tuntas dan sukses Insya Allah, Allah ridho, surga pun semakin pantas. Amin ya Rabbal alamin, yes!





