Januari 20, 2026

Hijrah: Senja di Kebun Kelapa, Luka di Hati Kita  

FB_IMG_1758466458984

Pelopornews – Mentari pagi di Pasangkayu, 20 September 2025, tak lagi sama. Ia tak mampu menghangatkan dinginnya jasad seorang gadis muda yang tergeletak di kebun kelapa, di Dusun Tanga-tanga. Gadis itu bernama Hijrah, 19 tahun, seorang karyawan koperasi.

 

Kabar kematian Hijrah menyebar bagai petir, menyisakan duka mendalam dan pertanyaan yang menghantui. Bagaimana bisa, seorang gadis seceria Hijrah, yang dikenal rajin bekerja demi menghidupi neneknya, harus menemui ajal dengan cara yang begitu tragis?

Sebelum senja itu tiba, Hijrah masih bergelut dengan tugasnya, menagih cicilan dari pintu ke pintu. Senyumnya, meski lelah, selalu hadir. Ia tak pernah mengeluh, meski harus berhadapan dengan berbagai karakter nasabah.

 

Namun, malam itu, Kamis 18 September 2025, sebuah pesan WhatsApp dari Hijrah kepada rekannya, Wizrah, menjadi pertanda malapetaka. “Bu, doakan saya,” tulisnya, “Dari tadi tidak ada rumah yang dilewati. Baru jalan ada jaringan di sini.”

 

Hijrah mengaku takut. Ia dibonceng oleh seorang pria, suami nasabah. Bukan menuju rumah, melainkan ke dalam kebun yang gelap dan sunyi. Wizrah, yang cemas, berusaha menghubungi Hijrah, namun tak ada jawaban.

Keesokan harinya, sepeda motor Hijrah ditemukan terparkir di kebun warga. Helm dan bungkusan gorengan masih tergantung, seolah Hijrah hanya pergi sebentar. Namun, Hijrah tak pernah kembali.

 

Sabtu pagi, harapan pupus. Jasad Hijrah ditemukan. Lehernya terlilit pakaian kerjanya sendiri. Tubuhnya hanya berbalut pakaian dalam, dengan luka-luka yang mengiris hati.

 

Hijrah, Pengganti Matahari untuk Neneknya

 

Di balik berita kriminal ini, tersimpan kisah seorang gadis yang menjadi tulang punggung keluarga. Sejak kecil, Hijrah diasuh oleh neneknya yang renta dan sakit-sakitan. Orang tuanya berpisah, dan Hijrah memilih untuk tetap berada di sisi sang nenek.

 

Setiap hari, Hijrah bekerja keras, menafkahi dirinya dan neneknya. Setiap Minggu, ia selalu menyempatkan diri pulang, merawat dan menemani sang nenek. Baginya, nenek adalah segalanya.

 

“Dia itu anak baik,” ujar Fini, sepupu Hijrah, dengan suara bergetar, “Neneknya sudah sakit-sakitan, dan selama ini dirawat sama Hijrah.”

 

Kini, nenek Hijrah tak tahu bahwa cucu kesayangannya telah pergi selamanya. Pikun telah merenggut ingatannya. Ia tak tahu bahwa senyum Hijrah tak akan pernah menghiasi rumah mereka lagi.

 

Kematian Hijrah adalah tamparan keras bagi kita semua. Ia adalah pengingat bahwa di balik angka-angka statistik kriminalitas, ada manusia dengan mimpi dan harapan. Ia adalah pengingat bahwa pekerja lapangan seperti Hijrah, yang berjuang di garis depan, seringkali rentan dan tak terlindungi.

 

Semoga kepergian Hijrah menjadi alarm bagi kita semua. Agar tidak ada lagi Hijrah lain yang harus meregang nyawa demi mencari sesuap nasi. Agar setiap pekerja lapangan bisa pulang dengan selamat, membawa senyum untuk orang-orang yang mereka cintai.

 

Karena setiap Hijrah adalah anak, cucu, saudara, dan sahabat yang kita kasihi. Dan mereka pantas mendapatkan perlindungan dan keadilan. (*)