April 19, 2026

Pemerintah Desa Tanah Datar Dinilai Kurang Peduli Lingkungan: Banjir Lumpuhkan Poros Samarinda-Bontang, Warga Khawatir Danau Tambang Jebol

SGN_03_10_2026_1773105238761

Pelopornews

KUKAR – Desa Tanah Datar, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, kini menjadi sorotan. Terletak di poros vital Samarinda-Bontang, desa ini baru saja dilanda banjir besar akibat hujan deras yang mengguyur beberapa waktu lalu, hingga jalur strategis tersebut lumpuh total.

 

Bencana ini memicu keprihatinan mendalam warga. Salah satu warga berinisial In, saat ditemui wartawan pada Senin (9/3), mengungkapkan bahwa banjir terjadi akibat meluapnya danau bekas galian tambang di daerah tersebut. “Itu bekas galian tambang yang tidak ditimbun dan menjadi danau. Kalau hujan deras, airnya langsung meluap. Bahkan sangat berpotensi menenggelamkan seluruh Desa Tanah Datar kalau bendungannya jebol,” ujar In dengan nada khawatir.

Kekhawatiran warga juga didukung oleh kondisi saluran air yang memprihatinkan. Sebuah sumber yang enggan disebutkan namanya menilai pemerintah desa kurang peduli terhadap lingkungan. Ia menunjuk parit di RT 4 Tanah Datar yang sudah sekian lama mengalami pendangkalan, diduga akibat aktivitas tambang batu bara di sekitarnya. “Coba lihat sendiri, parit sepanjang sekitar 1 kilometer ini dulu kedalamannya lebih dari 1 meter, tapi sekarang tinggal sekitar 15 sentimeter. Ini yang bikin air meluap ke darat dan menggenangi rumah warga,” jelasnya.

 

Ketua RT 4 Tanah Datar, Usma, membenarkan kondisi tersebut saat ditemui di kediamannya. Ia mengakui bahwa pengerukan saluran air pernah dilakukan oleh perusahaan penambang batu bara, namun itu sudah lama dilakukan. Menurut Usma, upaya pengerukan ulang menggunakan alat berat juga terkendala karena sebagian aliran air melewati bawah bangunan warga.

 

Sementara itu, Kepala Desa Tanah Datar, H. Anwar, memberikan pandangan berbeda saat dikonfirmasi melalui telepon seluler. Menurutnya, pendangkalan saluran air disebabkan oleh pasir yang terbawa banjir, bukan akibat kelalaian pihak desa. Ia juga menegaskan bahwa di desanya rutin diadakan kerja bakti “Jumat Bersih”, namun kegiatan tersebut sementara dihentikan karena saat ini memasuki bulan puasa. “Tidak ada pembiaran, karena di RT 4 itu selalu diadakan kerja bakti,” katanya.

 

Hingga saat ini, warga masih berharap adanya tindakan nyata dari pemerintah desa dan pihak terkait untuk menangani masalah lingkungan ini, guna mencegah terjadinya bencana yang lebih parah di masa depan.